Apa itu Drone Pertanian? Contoh Nyata NiVO Agrios 20L di Lahan Indonesia
- Marketing Harmoni Technology

- 4 days ago
- 5 min read

Drone pertanian adalah pesawat tanpa awak (UAV) yang digunakan khusus untuk aktivitas budidaya, mulai dari pemetaan lahan sampai penyemprotan pupuk dan pestisida secara presisi. Di Indonesia, salah satu bentuk paling populer adalah drone sprayer 20 liter seperti NiVO Agrios 20L yang dirancang untuk mempercepat pekerjaan semprot di sawah, tebu, jagung, hingga kebun hortikultura.
Artikel ini membahas dari nol: definisi, cara kerja, bukti ilmiah efisiensi drone pertanian, sampai contoh penggunaannya pada kelas drone sprayer seperti NiVO Agrios 20L di lahan Indonesia.
Apa Itu Drone Pertanian?
Secara sederhana, drone pertanian adalah kombinasi dari pesawat tanpa awak (drone), sistem navigasi & kendali otomatis (GPS/GNSS, RTK) dan payload khusus pertanian: tangki 10–30 L, pompa, nozzle, kadang kamera multispektral
Fungsinya antara lain adalah sebagai berikut:
Pemetaan & pemantauan tanaman
Foto udara (RGB/multispektral) untuk melihat vigor, cek genangan, cek kerusakan.
Penyemprotan (Drone Sprayer)
Menyemprot pupuk cair, pestisida, herbisida, dan biostimulan.
Penebaran benih/pupuk granular
Beberapa unit bisa dipasang spreader untuk benih/pupuk butiran.
Di lapangan, drone sprayer seperti NiVO Agrios 20L masuk kategori kedua: fokus pada penyemprotan cairan secara cepat dan seragam.

Kenapa Drone Pertanian Mulai Ramai di Indonesia?
1. Efisiensi Waktu dan Tenaga Kerja
Penelitian di lahan tebu Jawa Timur membandingkan sprayer punggung vs drone sprayer untuk pemupukan cair:
Metode manual: ± 248 menit/ha
Drone sprayer: ± 18 menit/ha
Dalam 8 jam kerja:
Manual: ± 1,6 ha/hari
Drone: ± 26,7 ha/hari
Artinya, drone sprayer bisa menghemat waktu >90% dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja dari 3 orang menjadi 1 operator saja.
Studi lain di Sungai Besar, Malaysia, menunjukkan:
Manual: bisa butuh ±20 jam/ha
Drone: sekitar 10 menit/ha
Total 5 ha bisa disemprot hanya ±50 menit.
Itu berarti drone dapat bekerja 2–20 kali lebih cepat dibanding tenaga manusia, tergantung jenis drone dan layout lahan.
2. Aplikasi Lebih Rata dan Terkontrol
Di hutan tanaman industri (HTI) Eucalyptus, pengendalian gulma dengan drone sprayer menunjukkan tingkat kelulusan quality assessment ±99,46%, bahkan di kelerengan berbeda (datar sampai sangat curam). Ini dimungkinkan karena navigasi menggunakan GNSS + RTK dengan akurasi tingkat sentimeter, dan jalur semprot yang di-program dan diulang secara konsisten
3. Lebih Aman bagi Operator
Pekerja tidak perlu lagi “mandi pestisida” membawa sprayer punggung seharian:
Jarak dari larutan lebih jauh
Waktu paparan lebih singkat
Risiko gangguan kesehatan (pusing, mual, iritasi kulit) turun signifikan dibanding metode manual yang intensif pestisida.
Cara Kerja Drone Sprayer di Lahan
1. Perencanaan Misi
Operator:
Menentukan blok lahan di aplikasi (Android/iOS/ground station)
Mengatur:
Ketinggian terbang (mis. 2–4 m di atas kanopi)
Kecepatan (mis. 4–7 m/s)
Lebar jalur semprot (berdasarkan lebar semprotan & overlap yang diinginkan)
Pada drone kelas 20 L seperti NiVO Agrios 20L, jalur-jalur semprot ini bisa disimpan sebagai mission preset untuk diulang musim berikutnya.
2. Pencampuran & Pengisian Tangki
Langkah umumnya:
Siapkan air di mixing tank
Masukkan pupuk/pestisida sesuai rekomendasi label
Aduk hingga homogen
Saring bila perlu
Isi tangki drone (mis. 20 L) melalui filter
Di titik ini SOP campuran pestisida dan APD tetap mengikuti standar hand sprayer.
3. Penyemprotan Otomatis
Setelah take-off:
Drone mengikuti jalur yang sudah diprogram (waypoint)
Pompa dan nozzle menyemprot dengan laju debit tertentu (L/menit)
Kecepatan & tekanan disesuaikan agar dosis per hektar sesuai (mis. 100–200 L/ha)
Operator tinggal memantau ketinggian, sisa baterai, sisa volume larutan. Ketika tangki kosong, drone kembali ke titik awal (home point) untuk isi ulang.
4. Logging Data
Sebagian sistem mencatat: Jalur terbang (flight path) Total luas semprot,Volume cairan yang dipakai. Data ini bisa dipakai untuk rekap biaya per hektar dan audit penyemprotan.
Studi Kasus Efisiensi: Manual vs Drone
Diringkas dari dua penelitian utama:
Tebu Jawa Timur – Drone vs Sprayer Punggung
Efisiensi waktu: 93,67% lebih cepat
Tenaga kerja: dari 3 orang → 1 operator (efisiensi 66,67%)
Luas/hari: naik ± 15–16 kali (1,69 ha → 26,7 ha)
Padi Sungai Besar, Malaysia – Drone vs Manual
Manual: sampai 20 jam/ha
Drone: ±10 menit/ha
Kecepatan kerja: 2–20× lebih cepat, tergantung kapasitas drone
Ini memberikan gambaran realistis untuk target performa drone sprayer 10–20 L, termasuk kelas NiVO Agrios 20L di lahan Indonesia.
Contoh Implementasi: Drone NiVO Agrios 20L di Lahan Indonesia
Catatan: NiVO Agrios 20L digunakan sebagai contoh kelas drone sprayer 20 liter; angka detail tetap harus mengikuti spesifikasi pabrikan.
1. Gambaran Umum NiVO Agrios 20L
Secara tipikal, drone sprayer 20 L seperti NiVO Agrios 20L memiliki:
Tangki 20 L untuk pupuk/pestisida
4–8 nozzle dengan droplet halus
Sistem GPS/RTK untuk jalur presisi
Baterai swap-able untuk operasi berulang
Di lapangan, kapasitas kerja bergantung pada:
Dosis semprot (L/ha)
Layout petak (persegi vs terpotong-potong)
Jarak take-off ke lahan
Namun berdasarkan studi drone sprayer di tebu dan padi, target realistis 1–2 ha per sorti dan >10 ha per hari dengan 1 operator sangat mungkin tercapai.
2. Workflow Penyemprotan NiVO Agrios 20L
Survey & pemetaan blok (bisa integrasi dengan GPS/RTK TechnoGIS yang kamu pakai di lini lain)
Mixing & pengisian larutan ke tangki 20 L
Setting misi otomatis (ketinggian, kecepatan, overlap jalur)
Sorti berulang sampai blok selesai
Export log untuk laporan ke mandor/instansi (luas, jam kerja, volume pupuk/pestisida).
3. Hasil yang Bisa Diharapkan
Dengan asumsi: dosis 100–150 L/ha, petak bersih tanpa halangan tinggi, dan operator terlatih, maka NiVO Agrios 20L dapat menjadi solusi untuk:
Mengurangi waktu semprot musiman (mis. pemupukan tebu/padi) dari hitungan hari menjadi jam
Menjaga konsistensi dosis antar blok
Mengurangi ketergantungan tenaga kerja harian yang sulit stabil.
Manfaat Drone Pertanian untuk Petani Kecil dan Korporasi
Untuk petani kecil & kelompok tani:
Bisa berbagi layanan jasa semprot drone, bayar per hektar
Tidak perlu investasi unit sendiri di awal
Mengurangi kerja fisik berat saat musim tanam/pemupukan
Untuk perusahaan / perkebunan / HTI:
Bisa memetakan & menyemprot blok luas dengan QA yang terukur
Data semprot terdokumentasi rapi (penting untuk audit, sertifikasi, dan ESG)
Drone tetap efektif bahkan di kelerengan bervariasi berkat RTK dan kontrol ketinggian.
Tantangan dan Hal yang Perlu Dipersiapkan
Investasi awal. Harga unit drone sprayer + baterai cadangan + charger cepat
Skill pilot & legalitas. Perlu pilot berlisensi (tergantung aturan wilayah)
Manajemen pestisida. SOP pencampuran, APD, dan buffer zone tetap wajib
Integrasi dengan alat lama. Drone menyelesaikan blok besar, hand sprayer tetap dipakai untuk spot kecil/pojok sulit.
FAQ Drone Pertanian
1. Apa fungsi utama drone dalam bidang pertanian?
Untuk pemetaan, pemantauan kesehatan tanaman, dan penyemprotan pupuk/pestisida secara presisi sehingga efisiensi waktu, tenaga kerja, dan bahan kimia meningkat.
2. Apa manfaat drone pertanian untuk petani kecil?
Menghemat tenaga, mengurangi paparan pestisida, dan memungkinkan
layanan jasa semprot per hektar sehingga petani tidak perlu membeli unit sendiri.
3. Drone pertanian hanya cocok untuk lahan besar?
Tidak. Untuk lahan <1 ha pun drone bermanfaat saat akses sulit (rawa, lereng curam) atau tenaga kerja terbatas. Namun secara ekonomi biasanya paling menarik mulai dari beberapa hektar ke atas.
4. Seberapa cepat drone sprayer dibanding tenaga manusia?
Studi menunjukkan kecepatan kerja bisa 2–20× lebih cepat dibanding penyemprotan manual, tergantung jenis drone dan kondisi lahan.
5. Apakah drone pertanian aman untuk tanaman dan lingkungan?
Selama kalibrasi dosis benar dan SOP penyemprotan diikuti (arah angin,
APD, jarak permukiman), drone justru membantu mengurangi overdosis dan drift karena aplikasi lebih tepat sasaran.
.png)



Comments