Pompa Air Diesel vs Tenaga Surya: Mana yang Paling Hemat untuk Irigasi?
- Marketing Harmoni Technology

- Jan 1
- 5 min read

Di banyak daerah, pompa air adalah gerbang utama untuk menjaga irigasi sawah ±1 hektar, mengamankan air saat saluran irigasi lemah, dan menaikkan intensitas tanam (IP 200/300). Selama ini, mayoritas petani memakai pompa air diesel / bensin (mesin bakar), tapi belakangan mulai muncul opsi pompa air tenaga surya irigasi (PLTS pompa air).
Pertanyaan pentingnya lebih hemat mana pompa air diesel atau pompa air tenaga surya untuk irigasi? Jawabannya tidak 1 kalimat, tapi bisa di-breakdown dengan logika, yakni bagaimana struktur biaya, bagaimana pola penggunaan (jam/tahun), dan seperti apa sumber daya & infrastruktur di lokasi.
Cara Kerja Pompa Air Diesel vs Pompa Air Tenaga Surya
1. Pompa Air Diesel
Menggunakan mesin diesel/bensin yang memutar pompa sentrifugal irigasi,
Energi berasal dari BBM (solar/bensin),
Kelebihan:
bisa jalan kapan saja selama ada BBM,
daya besar relatif murah di awal (CAPEX lebih kecil),
teknologinya sudah sangat familiar di desa.
Kekurangan:
butuh BBM terus-menerus,
ada biaya oli & maintenance rutin,
emisi gas buang dan kebisingan.
2. Pompa Air Tenaga Surya (PLTS untuk Pompa Air)
Menggunakan panel surya → listrik DC/AC → driver/solar pump controller → pompa air (surface/submersible),
Energi utama dari matahari,
Kelebihan:
biaya operasional harian sangat rendah (hampir nol BBM),
cocok untuk daerah yang BBM-nya mahal / sulit diakses,
lebih ramah lingkungan (tanpa emisi selama operasi).
Kekurangan:
CAPEX tinggi di awal (panel + controller + pompa khusus),
bergantung pada kondisi cuaca,
butuh desain teknis yang benar (kalau salah sizing → sistem loyo).
Struktur Biaya: CAPEX vs OPEX di Irigasi 1 Hektar
Cara paling rasional membandingkan:
CAPEX (Capital Expenditure) → biaya investasi awal,
OPEX (Operational Expenditure) → biaya operasional & perawatan selama beberapa tahun.
Pompa Diesel – Pola Umum
CAPEX:
harga pompa + mesin diesel,
pipa/selang, aksesoris.
OPEX:
BBM per jam × jam operasi per musim/tahun,
oli & servis mesin,
kadang biaya operator.
Cocok kalau jam penggunaan per tahun tidak terlalu besar, dan petani ingin modal awal serendah mungkin.
Pompa Air Tenaga Surya – Pola Umum
CAPEX:
paket panel surya, rangka, kabel,
solar pump controller / inverter,
pompa air (submersible/surface) yang kompatibel,
instalasi.
OPEX:
relatif kecil: inspeksi panel, pembersihan, sedikit perbaikan,
tidak ada BBM harian.
Cocok kalau jam penggunaan per tahun besar (intensitas pakai tinggi), dan horizon perencanaan jangka menengah–panjang (3–10+ tahun).
Contoh Perhitungan Sederhana untuk Sawah ±1 Hektar (Asumsi Ilustratif)
Catatan penting: Angka di bawah hanya ilustrasi, bukan harga pasar aktual. Gunanya untuk menunjukkan logika perbandingan, bukan untuk dijadikan patokan jual-beli.
Asumsi Teknis
Lahan: 1 hektar sawah
Kebutuhan air per musim, total jam pompa dalam satu musim (dari perhitungan debit, dsb.): misal 100 jam operasi pompa per musim
Musim tanam: 2 kali/tahun → total 200 jam/tahun
Opsi 1 – Pompa Diesel
CAPEX (pompa diesel + pipa + instalasi): misal X juta
Konsumsi BBM: 1 liter/jam
Harga BBM: misal Rp 10.000/liter
Biaya BBM per tahun:
200 jam × 1 L/jam × Rp10.000 = Rp 2.000.000/tahun
Tambah oli & servis (misal Rp500.000/tahun) → total OPEX ±Rp 2.500.000/tahun
Opsi 2 – Pompa Tenaga Surya (PLTS Pompa)
CAPEX (panel + controller + pompa + instalasi): misal 2–3 kali X (lebih mahal dari diesel)
OPEX tahun ke-1–5:
tidak ada BBM,
biaya perawatan kecil (misal Rp300.000–Rp500.000/tahun).
Inti Perbandingan
Diesel: CAPEX lebih kecil, tapi OPEX tinggi dan terus berulang (BBM).
Surya: CAPEX jauh lebih besar, tapi OPEX kecil.
Break-even pompa surya vs diesel biasanya tercapai kalau jam operasi per tahun cukup tinggi, harga BBM cenderung naik, dan alat dipakai konsisten beberapa tahun (3–7 tahun+). Jika jam operasi per tahun sedikit, diesel sering lebih ekonomis. Kalau jam operasi per tahun sangat tinggi (misal irigasi + pompa tambahan untuk kolam, horti, dll.), PLTS pompa sering jadi lebih hemat total setelah beberapa tahun.
Faktor Non-Biaya: Keandalan, Operasional, dan Lingkungan
1. Keandalan dan Fleksibilitas Waktu
Diesel:
Bisa dinyalakan kapan saja, siang/malam, mendung/hujan,
Asal ada BBM dan mesin terawat, cocok untuk emergency.
Surya:
Optimal di jam matahari kuat (pagi–siang–sore),
Di musim hujan/berawan berat, debit bisa turun,
Kecuali sistem dilengkapi baterai (biaya naik signifikan).
2. Kemudahan Operasional
Diesel:
butuh pengisian BBM, cek oli, start manual,
butuh operator yang paham mesin.
Surya:
setelah sistem benar, operasi harian hampir “nyala otomatis”,
lebih sedikit interaksi sehari-hari (panel tinggal dibersihkan berkala).
3. Lingkungan dan Kebisingan
Diesel:
emisi CO₂, NOx, asap,
suara bising → mengganggu kalau dekat permukiman.
Surya:
operasi nyaris tanpa suara dan tanpa emisi,
cocok untuk program “pertanian hijau”, CSR, atau proyek berkelanjutan.
Kapan Pompa Diesel Lebih Masuk Akal?
Pompa diesel masih sangat masuk akal jika:
Modal awal terbatas, tidak sanggup CAPEX PLTS yang besar.
Jam operasi per tahun relatif rendah, misal hanya dipakai beberapa minggu tertentu saat sungai/saluran drop.
Lokasi akses BBM mudah dan relatif murah, tidak ada kebutuhan branding “hijau” atau target emisi.
Pola pemakaian bersifatnya cadangan / backup, bukan main system, misal untuk mengatasi kekeringan insidental.
Kapan Pompa Air Tenaga Surya (PLTS) Lebih Unggul?
Pompa tenaga surya menjadi sangat menarik jika:
Jam pemakaian tinggi per tahun, irigasi rutin untuk beberapa hamparan, pompa aktif di banyak bulan selama tahun berjalan.
BBM di lokasi mahal, sulit diakses (biaya logistik tinggi).
Ada orientasi jangka panjang, seperti proyek pemerintah, BUMN, atau koperasi yang berpikir 5–10 tahun ke depan, dan ada skema pembiayaan (kredit hibah, CSR, dll.).
Ada kebutuhan menurunkan jejak karbon, menunjukkan program pertanian presisi + energi terbarukan.
Dalam konteks “hemat total biaya + hemat lingkungan” di jangka menengah–panjang, harga paket pompa air tenaga surya yang tinggi di awal bisa terkompensasi oleh penghematan BBM tahunan.
Strategi Konversi dari Pompa Diesel ke PLTS untuk Irigasi
“Konversi pompa diesel ke PLTS” ada beberapa bentuk:
Ganti total sistem
Pompa lama (diesel) diganti pompa listrik DC/AC khusus PLTS,
Panel + controller baru,
CAPEX terbesar, tapi sistem bisa diset optimal sejak awal.
Hybrid (Diesel + PLTS)
Di siang hari pompa jalan pakai PLTS,
Di kondisi mendung/butuh tambahan → diesel dipakai,
Mengurangi konsumsi BBM tapi tetap punya backup.
Retrofitting sebagian
Mesin diesel tetap ada,
Dibangun sistem PLTS terpisah untuk sebagian kebutuhan (misal untuk horti, kolam, atau blok tertentu),
Secara bertahap BBM dikurangi.
Rangkuman dan Rekomendasi: Pilih Diesel, Surya, atau Hybrid?
Pompa diesel vs tenaga surya bukan soal “mana yang paling modern”, tapi:
mana yang paling cocok dengan pola penggunaan, jam operasi, dan kondisi ekonomi di lokasi.
Singkatnya:
Pilih pompa air diesel jika:
modal awal terbatas,
jam operasi per tahun tidak terlalu tinggi,
BBM relatif mudah & murah,
butuh fleksibilitas waktu 24 jam.
Pilih pompa air tenaga surya jika:
jam operasi per tahun tinggi,
harga BBM & logistik mahal,
orientasi jangka panjang,
ada dukungan pembiayaan / program energi terbarukan.
Pertimbangkan sistem hybrid jika:
ingin mengurangi total BBM,
tapi masih ingin punya backup diesel untuk kondisi ekstrem.
Kamu yang menentukan jenis pompa yangs esuai dengan kebutuhan kebunmu. Namun jika kamu masih kesulitan menentukannya dan ingin berkonsultasi lebih lanjut, hubungi kami untuk mendapatkan bantuan lebih dalam mengenai pompa air yang tepat untuk kebun dan sawahmu!
.png)



Comments