top of page

Peran GNSS RTK TechnoGIS dalam Mitigasi Bencana dan Monitoring Deformasi


pergerakan tanah atau longsor, dapat dimonitoring dengan TGS Geodetik GNSS EQ1, deteksi dini bencana alam

Geografis indonesia yang beragam mulai dari dataran tinggi, pegunungan, hingga berbagai pulau yang dipisahkan oleh laut. Akhir tahun 2025 ini, beberapa wilayah indonesia khususnya daerah dekat perbukitan, rawan terkena bencana tanah longsor dan banjir. Mengakibatkan alam dan kehidupan manusia rusak parah akibat bencana tersebut. Bencana geologi seperti longsor, pergerakan tanah lambat (landslide creep), penurunan tanah (subsidence), dan deformasi struktur akibat gempa atau aktivitas tektonik, sering diawali oleh pergerakan kecil yang tidak kasat mata.

Tetapi apakah kita tidak bisa mendekteksi adanya sebuah bencana akan datang?Jawabannya bisa, menggunakan serangkaian alat canggih, berupa GPS untuk melihat adanya pergeseran atau pergerakan tanah. Untuk mendeteksi pola ini, akurasi meteran dari GPS biasa tidak cukup. Diperlukan GNSS RTK untuk mitigasi bencana, sistem penentuan posisi dengan akurasi centimeter, yang bisa memantau perubahan posisi titik dari waktu ke waktu.

TechnoGIS GNSS RTK menyediakan receiver RTK presisi tinggi, yang bisa dipakai untuk monitoring deformasi RTK di lereng, struktur, dan zona rawan bencana lain.



Prinsip Dasar Monitoring Deformasi dengan GNSS RTK TechnoGIS

  1. Penentuan titik referensi (titik stabil)

    Dipasang di area yang relatif stabil (di luar zona deformasi) yang akan menjadi acuan koordinat jangka panjang.

  2. Penentuan titik monitoring (titik yang diawasi)

    Dipasang di lereng yang rawan, badan bendungan, bangunan penting, tiang, dsb., Koordinat titik ini akan diukur berulang.

  3. Pengukuran berkala dengan GNSS RTK TechnoGIS

    Menggunakan base–rover atau NTRIP. Perubahan posisi horisontal/vertikal dibandingkan referensi.

  4. Analisis deformasi

    Selisih koordinat antar waktu diolah. Dicari tren pergeseran konstan, percepatan pergerakan, perubahan pola.

Dengan demikian, monitoring deformasi RTK memberikan data objektif tentang apakah lereng/struktur bergerak, seberapa besar, dan ke arah mana, dapat digunakan sebagai dasar keputusan mitigasi (evakuasi, penguatan lereng, rekayasa struktur).



RTK untuk Longsor: Pemantauan Lereng dan Pergerakan Tanah

RTK dapat digunakan untuk memonitoring pergerakan tanah longsor, namun bagaimana caranya? GNSS RTK sangat relevan untuk pemantauan lereng di daerah rawan longsor, baik di jalan tol, jalan nasional, tambang, bendungan, maupun pemukiman di kaki bukit.


  1. Pembuatan jaringan titik monitoring di lereng

    Titik dipasang di: bagian atas lereng, tubuh lereng, kaki lereng. Jumlah titik tergantung luas dan kompleksitas lereng.

  2. Pengukuran berkala dengan RTK

    Di setiap kampanye pengukuran, rover RTK mengamati kembali posisi titik-titik ini. Data disimpan dengan teliti (waktu, kondisi, operator).

  3. Analisis pergerakan

    Akan dibandingkan dengan pengukuran sebelumnya, apakah ada pergeseran signifikan, apakah pergeseran meningkat mendekati musim hujan, atau apakah ada pola percepatan sebelum kejadian runtuh.

Manfaatnya untuk mendeteksi dini pergerakan lereng. Sebagai dasar untuk pembatasan beban (misalnya lalu lintas berat), penguatan lereng (shotcrete, soil nail, drainage), bahkan rekomendasi evakuasi jika pergerakan melewati ambang tertentu.



RTK untuk Gempa dan Deformasi Struktur

GNSS RTK juga memiliki peran pada rtk untuk gempa dan deformasi struktur, misalnya jembatan besar, bendungan, gedung tinggi, struktur vital seperti rumah pompa, instalasi industri, dsb.

  1. Pre-event (pra-gempa)

    Menetapkan baseline posisi titik monitoring di struktur, misalnya titik di puncak pilar jembatan atau puncak bendungan.

  2. Post-event (pasca-gempa)

    Mengukur ulang titik monitoring, membandingkan dengan baseline apakah struktur bergeser/condong, dan berapa besar selisihnya.

  3. Monitoring jangka panjang

    Untuk beberapa struktur, deformasi bisa terjadi perlahan, monitoring deformasi RTK membantu memastikan bahwa struktur tetap dalam batas aman.

Saat digabung dengan metode lain (tiltmeter, strain gauge, accelerometer), RTK memberikan referensi geometri absolut yang sulit diberi oleh sensor lokal saja.



Desain Jaringan Titik Monitoring: Berapa Titik dan Seberapa Sering Diukur?

Frrekuensi pengukuran titik monitoring tergantung pada tingkat risiko, dinamika pergerakan, dan ketersediaan sumber daya.


1. Jumlah titik monitoring

  • Lereng kecil, sederhana: bisa 3–5 titik (atas, tengah, bawah).

  • Lereng besar/kompleks atau bendungan: bisa puluhan titik, dibagi beberapa profil melintang.

Semakin kompleks dan penting area, semakin padat jaringan titik yang dibutuhkan.

2. Frekuensi pengukuran

Contoh pola frekuensi:

  • Kondisi normal (risiko sedang)

    • 1 kali per bulan,

    • atau 1 kali per kuartal,

    • cukup untuk memantau tren jangka panjang.

  • Musim hujan / kondisi waspada

    • dinaikkan menjadi 1–2 minggu sekali,

    • atau bahkan beberapa hari sekali jika ada indikasi pergerakan.

  • Mendekati ambang bahaya

    • pengukuran bisa dilakukan harian,

    • atau diusulkan sistem semi-otomatis (misalnya base permanen + monitoring hampir real-time).

Frekuensi harus menyesuaikan kecepatan proses geologi. Jika longsor cepat, maka frekuensi pengukuran tinggi. sebaliknya jika penurunan tanah lambat, maka frekuensi bisa lebih jarang.



Workflow Lapangan: Dari Instalasi Titik Monitoring hingga Analisis Pergerakan

Ringkasan workflow praktis untuk paket GNSS RTK TechnoGIS di konteks mitigasi bencana:

  1. Survei awal & desain jaringan

    • Identifikasi area risiko (lereng, struktur, zona patahan),

    • Tentukan:

      • lokasi titik referensi,

      • titik monitoring,

      • jalur akses.

  2. Instalasi titik monitoring RTK

    • Pemasangan pilar/patok beton, pin di struktur, atau mark lain,

    • Koordinat awal diukur dengan GNSS RTK (mode static + RTK jika perlu).

  3. Kampanye pengukuran berkala

    • Tim datang dengan rover RTK TechnoGIS,

    • Mengukur ulang semua titik sesuai SOP,

    • Mencatat kondisi lapangan.

  4. Pengolahan data

    • Data koordinat masuk ke spreadsheet/GIS,

    • Dianalisis perubahan posisi (ΔX, ΔY, ΔZ) per periode.

  5. Interpretasi dan laporan

    • Pergerakan diplot sebagai vektor displacement,

    • Disimpulkan:

      • apakah pergerakan dalam batas normal,

      • apakah ada tren peningkatan yang perlu ditindaklanjuti.

  6. Tindak lanjut teknis & manajerial

    • Jika diperlukan, direkomendasikan:

      • pemasangan sensor lain,

      • rekayasa sipil,

      • pembatasan aktivitas,

      • atau peringatan dini.



Integrasi GNSS RTK TechnoGIS dengan Sensor Lain dan Sistem Peringatan Dini

GNSS RTK bukan satu-satunya sensor untuk mitigasi bencana. Namun, ia punya peran unik yakni memberikan koordinat absolut pergerakan di ruang 3D (X, Y, Z).

Untuk sistem peringatan dini yang lebih lengkap, biasanya GNSS RTK TechnoGIS diintegrasikan dengan:

  • tiltmeter / inclinomenter → untuk sudut kemiringan lokal,

  • rain gauge / sensor hujan → korelasi curah hujan dengan pergerakan,

  • piezometer → tekanan air pori di lereng/bendungan,

  • accelerometer / seismometer → getaran gempa.

Integrasi tingkat lanjut dengan data dikirim ke server pusat, dianalisis secara otomatis (threshold, tren), dan jika melewati batas akan memberikan alarm peringatan (sirine, SMS, notifikasi sistem command center). Dalam skema ini, TechnoGIS GNSS RTK menjadi sumber data spasial presisi yang menyuplai modul deformasi di sistem peringatan dini.


RTK sebagai Tulang Punggung Data Presisi untuk Mitigasi Bencana

GNSS RTK TechnoGIS memungkinkan monitoring deformasi dengan akurasi centimeter, sangat relevan untuk monitoring longsor, pemantauan lereng, pergerakan tanah, dan deformasi struktur dan dampak gempa.

  • bagaimana RTK membantu mitigasi bencana? dengan memberikan data pergerakan yang objektif dan terukur.

  • apakah RTK bisa untuk monitoring longsor? ya, dan sangat cocok untuk itu.

  • seberapa sering titik monitoring diukur? tergantung tingkat risiko; mulai dari bulanan hingga harian.

Dengan desain jaringan monitoring yang tepat, integrasi ke GIS dan sensor lain, serta dukungan paket alat TechnoGIS GNSS RTK dapat menjadi salah satu komponen kunci dalam strategi mitigasi bencana yang serius dan berbasis data di Indonesia.

Comments


bottom of page