top of page

Integrasi GNSS RTK TechnoGIS dengan GIS untuk Perencanaan Wilayah

Selama bertahun-tahun, banyak keputusan perencanaan wilayah dan tata ruang diambil dengan peta lama yang kurang akurat, data hasil digitasi manual, atau koordinat lapangan yang masih skala meteran. Di sisi lain, kebutuhan saat ini adalah detail batas bidang tanah, lokasi infrastruktur (jalan, drainase, utilitas), risiko bencana, dan layanan publik (sekola, puskesmas, halte) semakin menuntut data geospasial presisi.

Kombinasi dari GNSS RTK TechnoGIS untuk menyediakan koordinat presisi (cm-level) di lapangan, dan GIS (QGIS/ArcGIS) untuk mengelola, menganalisis, dan memvisualisasikan data tersebut, membuat rtk gis perencanaan wilayah jadi fondasi penting untuk perencanaan kota,tata ruang kabupaten/kota, hingga inisiatif smart city.

Pengertian GIS itu sendiri, GIS (Geographic Information System) atau sistem informasi geografis adalah alat berbasis komputer yang digunakan untuk memetakan dan menganalisis berbagai objek dan peristiwa di bumi. Teknologi GIS menggabungkan basis data umum dengan operasi seperti kueri dan analisis statistik melalui visualisasi yang unik. GIS juga mampu menampilkan aspek geografis serta memberikan manfaat analisis yang disediakan oleh peta.

TGS Geodetik GNSS RTK EQ1 di sebuah lapangan digunakan untuk memetakan lahan perencaaan wilayah


Konsep Dasar Integrasi GNSS RTK TechnoGIS dengan GIS

Konsepnya sederhana:

  1. Di lapangan

    TechnoGIS GNSS RTK mengukur: titik batas, infrastruktur, fitur penting lainnya, dengan akurasi centimeter.

  2. Di kantor / lab

    Data RTK diimpor ke software GIS (QGIS, ArcGIS, Global Mapper, dsb.), yang diolah menjadi: layer titik, garis, poligon, peta tematik, bahan analisis spasial.

  3. Di level kebijakan

    Hasil GIS digunakan untuk: menyusun rencana tata ruang, memprioritaskan pembangunan infrastruktur, mendukung dashboard smart city dan sistem informasi geospasial daerah.

Lalu bagaimana cara menghubungkan GNSS RTK ke GIS? Jawaban ringkasnya: ukur dengan RTK → ekspor data → impor ke GIS → analisis & visualisasi. Di bawah ini kita detailkan per tahap.



Tahap 1 – Pengukuran Lapangan dengan GNSS RTK TechnoGIS

Di lapangan, TechnoGIS GNSS RTK berperan sebagai sumber koordinat presisi.

Objek yang umumnya diukur:

  • Batas bidang tanah (untuk PTSL, aset, RTH),

  • Infrastruktur: jalan, jembatan, saluran drainase, jaringan air bersih, listrik, telekomunikasi,

  • Fitur perencanaan: tapak bangunan, ROW jalan, rencana lokasi fasilitas baru, dsb.


Hal penting:

  1. Sistem koordinat ditentukan sejak awal. Misal: UTM zona tertentu, atau sistem lokal yang dipakai instansi.

  2. Koding titik yang konsisten

    misal:

    • BD_ untuk batas,

    • JL_ untuk jalan,

    • DR_ untuk drainase,

    • FP_ untuk fasilitas publik.

    • Ini akan sangat mempermudah pengelompokan layer di GIS.

  3. RTK link stabil

    • Bisa melalui radio 433 MHz (base–rover) atau NTRIP (CORS RTK),

    • Pastikan status solusi RTK FIX saat ambil titik penting.

Output akhir dari tahap ini: file koordinat RTK (CSV/TXT, DXF, SHP, atau KML) yang siap masuk ke GIS.



Tahap 2 – Impor Data RTK ke QGIS/ArcGIS sebagai Layer GIS

Lalu bagaimana pengiriman Data RTK ke ArcGIS/QGIS? Secara umum sebagai berikut:

  1. Siapkan file hasil ekspor dari GNSS RTK TechnoGIS

    • Format umum:

      • CSV/TXT (tabel koordinat),

      • DXF (CAD),

      • SHP (jika software lapangan sudah bisa ekspor),

      • KML/KMZ (untuk visual cepat).

  2. Impor ke QGIS / ArcGIS

    • CSV/TXT → dibuat sebagai layer titik (XY event layer),

    • DXF → dibaca sebagai layer vektor (garis/poligon),

    • KML → dibaca sebagai layer yang siap dioverlay dengan basemap.

  3. Tetapkan CRS (Coordinate Reference System)

    Sesuai dengan sistem yang dipakai saat pengukuran RTK, misalnya UTM WGS84 zona tertentu, atau sistem lokal.

Begitu data sudah menjadi layer vektor di GIS, barulah kita punya “RTK link ke GIS” yang nyata.



Tahap 3 – Konversi Koordinat, Struktur Layer, dan Standarisasi Data

Setelah data RTK masuk GIS:

  1. Konversi koordinat jika perlu

    Misal dari lat/long ke UTM, atau ke sistem proyeksi lokal yang dipakai instansi. Dilakukan dengan fungsi reproject / project di QGIS/ArcGIS.

  2. Struktur layer

    • Pisahkan layer:

      • batas bidang,

      • jalan,

      • saluran,

      • bangunan,

      • utilitas, dsb.

    • Gunakan kode titik/atribut dari lapangan sebagai dasar pengelompokan.

  3. Standarisasi atribut

    • Tambahkan kolom:

      • ID unik,

      • nama ruas,

      • klasifikasi jalan,

      • jenis saluran,

      • fungsi lahan, dsb.

    • Penting untuk integrasi dengan database lain (SIMTARU, SIPPT, SIPD, dll.).

Software QGIS dan ArcGIS sangat cocok untuk data RTK, asalkan pengguna disiplin di struktur layer & CRS.



Tahap 4 – Analisis Spasial untuk Perencanaan Wilayah dan Infrastruktur

Setelah data RTK tersusun rapi menjadi layer GIS, barulah data tersebut bisa menjawab pertanyaan penting perencanaan, misalnya:

  • Prioritas pelebaran jalan mana dulu?

  • RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang ada cukup atau tidak?

  • Lokasi fasilitas baru (sekolah, puskesmas) paling ideal di mana?

Contoh analisis:

  1. Overlay jaringan jalan hasil RTK dengan peta RTRW/RDTR

    • Cek kesesuaian kondisi aktual dengan rencana,

    • Identifikasi area yang menyimpang dari tata ruang.

  2. Analisis aksesibilitas

    • Hitung jarak tempuh dari permukiman ke fasilitas publik,

    • Bantu memutuskan lokasi fasilitas baru.

  3. Analisis risiko banjir

    • Integrasi:

      • data drainase hasil RTK,

      • DEM/kontur,

      • data historis genangan,

    • Untuk merencanakan perbaikan saluran dan kolam retensi.

  4. Inventarisasi aset dan utilitas

    • Lokasi tiang listrik, hydrant, manhole, pipa, dll.

    • Penting untuk perencanaan perbaikan dan pengembangan.

Inilah nilai tambah utama rtk untuk perencanaan wilayah: data lapangan yang presisi benar-benar terpakai di analisis GIS.



RTK untuk Perencanaan Kota dan Smart City: Contoh Use Case

Bagaimana caranya RTK dapat digunakan untuk perencanaan kota dan smart city? Beberapa use case yang bisa diaplikasikan:

  1. Inventarisasi aset kota (asset mapping)

    • Lampu jalan, CCTV, halte, taman, rambu, dll.

    • Posisi presisi → mudah diintegrasikan ke dashboard smart city.

  2. Pemetaan IoT & sensor

    • Lokasi sensor banjir, kualitas udara, traffic counter, dsb.

    • Koordinat presisi memudahkan analisis dan integrasi sistem.

  3. Pendataan fasilitas publik inklusif

    • Trotoar, ramp difabel, zebra cross,

    • Bisa dinilai apakah penempatannya sudah sesuai standar aksesibilitas.

  4. Basis data untuk simulasi dan modeling

    • Model lalu lintas,

    • model banjir,

    • pemodelan tata cahaya (penerangan jalan), dsb.

Tanpa GNSS RTK, koordinat sering tidak konsisten antar proyek; integrasi ke sistem smart city jadi sulit. Dengan TechnoGIS GNSS RTK, semua data lapangan mulai “bicara bahasa yang sama” di GIS.



Software GIS yang Cocok untuk Data GNSS RTK TechnoGIS

Untuk dapat diolah datanya, RTK harus melalui pengolah data GIS yang tepat. Beberapa contoh software yang cocok digunakan untuk mengolah data RTK adalah sebagai berikut:

  1. QGIS (open-source)

    Software QGIS untuk pemetaan lahan
    • Cocok untuk instansi yang ingin solusi tanpa lisensi mahal,

    • Sangat kuat untuk:

      • manajemen layer,

      • konversi koordinat,

      • layout peta,

      • plugin analisis.


  2. ArcGIS

    Software ArcGIS untuk pemetaan lahan perencanaan wilayah
    • Banyak dipakai di instansi yang sudah punya ekosistem ESRI,

    • Kuat di integrasi enterprise (portal, server, dashboard).

    • Mendukung visualisasi data; analisis lanjutan; dan pemeliharaan data otoritatif dalam 2D, 3D, hingga 4D


  3. Global Mapper / software pelengkap

    Global Mapper untuk perencaan wilayah dan pemetaan lahan
    • Kuat untuk konversi dan batch processing data,

    • Berguna sebagai “hub” antara data RTK, DEM, dan layer lain.

    • mendukung lebih dari 300 format file, mencakup tipe data vektor, raster, elevasi, dan point cloud.


Yang penting bukan hanya software-nya, tapi disiplin di CRS, struktur layer, dan SOP integrasi RTK–GIS. Beberapa contoh software diatas dapat kamu gunakan agar data RTK dapat diolah dengan benar.



Best Practice Integrasi RTK–GIS di Instansi dan Konsultan

Beberapa prinsip yang sebaiknya diterapkan:

  1. Standar koordinat dan datum instansi

    Misalnya: semua proyek harus pakai sistem tertentu. Menghindari “peta masing-masing” yang sulit digabung.

  2. Template layer dan atribut

    Template shapefile/GeoPackage:

    • layer batas, jalan, saluran, bangunan, dsb.,

    • field standar (ID, klasifikasi, sumber data, tanggal survey).

  3. SOP kerja RTK–GIS

    Dari pengukuran → ekspor → impor ke GIS → QC → layout → publikasi data. Dituangkan ke dokumen dan training.

  4. Versioning dan dokumentasi

    Data RTK geospasial adalah aset jangka panjang. Simpan metadata: siapa mengukur, kapan, alat apa, sistem koordinat apa.

Kalau semua ini diterapkan, integrasi GNSS RTK TechnoGIS + GIS bukan hanya “proyek sekali jalan”, tapi jadi fondasi sistem informasi geospasial di instansi.



Paket GNSS RTK untuk GIS, Jasa Integrasi RTK–GIS, dan Training Pengolahan Data

Untuk mengimplementasikan semua ini, biasanya kebutuhan user terbagi jadi tiga:

  1. Paket GNSS RTK untuk GIS

    • Paket hardware (receiver TechnoGIS GNSS RTK) +

    • konfigurasi workflow ekspor data untuk GIS (QGIS/ArcGIS),

    • cocok untuk:

      • konsultan,

      • dinas teknis,

      • BUMN,

      • kampus.

  2. Jasa integrasi RTK–GIS

    • Untuk instansi yang sudah punya data RTK tapi belum terstruktur di GIS,

    • Meliputi:

      • penyusunan struktur layer,

      • konversi koordinat massal,

      • pembuatan peta dan dashboard.

  3. Training pengolahan data RTK

    • Materi:

      • impor data GNSS RTK ke QGIS/ArcGIS,

      • konversi koordinat,

      • pembuatan peta tematik untuk perencanaan wilayah,

      • workflow dokumentasi dan backup data.

Jadi, integrasi TechnoGIS GNSS RTK dengan GIS bukan hanya soal alat, tetapi membangun rantai lengkap, mulai dari mengukur dengan presisi, mengolah data di GIS, kemudian menganalisis, hingga menciptakan sebuah keputusan tata ruang dan infrastruktur yang lebih akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Comments


bottom of page