top of page

Head dan Debit Pompa Air: Cara Membaca Spesifikasi dan Menentukan Pompa yang Tepat

Head dan debit pompa air Honda 3inch WB30XN

Brosur pompa air selalu penuh angka: head 30 meter, kapasitas 30 liter per menit, kurva Q–H, daya sekian Watt/HP, dan lain-lain. Kalau angka-angka ini tidak dipahami, orang cenderung memilih pompa berdasarkan:

  • merk yang populer,

  • rekomendasi tetangga,

  • atau “yang paling besar saja.”

Padahal, inti pemilihan pompa adalah dua hal:

  • head pompa air (seberapa tinggi pompa bisa “mengangkat” air),

  • debit pompa air (seberapa banyak air yang bisa dipindahkan per satuan waktu).

Artikel ini menjelaskan:

  • apa itu head dan debit,

  • cara membaca spesifikasi dan kurva pompa air,

  • cara menghitung total dynamic head (TDH),

  • dan bagaimana menentukan pompa yang tepat untuk rumah dan irigasi.



Apa Itu Head Pompa Air?

Head (H) = “tinggi energi” yang harus dilawan pompa untuk memindahkan air, biasanya dinyatakan dalam meter (m).

Bayangkan:

Kamu ingin memompa air dari permukaan sungai ke tandon di atas bangunan. Selisih ketinggian vertikal inilah yang secara kasar menggambarkan head statis.

Tapi dalam prakteknya, head bukan hanya selisih tinggi, melainkan kombinasi dari:

  1. Head statis (static head)

    • selisih ketinggian antara permukaan air sumber dan titik keluaran (tandon, kran, saluran).

  2. Head gesek (friction head)

    • kehilangan energi karena gesekan di dalam pipa, sambungan, belokan, saringan, valve, dll.

  3. Head tambahan lainnya

    • misal: head tekanan di ujung (kalau di ujung butuh tekanan tertentu, setara beberapa meter head).

Gabungan semua ini disebut Total Dynamic Head (TDH).



Apa Itu Debit Pompa Air?

Debit (Q) = volume air yang dipompa per satuan waktu.

Satuan yang umum:

  • L/menit (liter per menit),

  • L/detik,

  • m³/jam.

Contoh:

  • pompa air kapasitas 30 liter per menit → artinya dalam kondisi tertentu, pompa mampu memindahkan ±30 L air setiap menit.

Debit ini tidak bisa dilepas dari head. Di head yang berbeda, debit yang dihasilkan pompa akan berbeda. Inilah yang digambar di kurva pompa air.



Kurva Pompa Air: Hubungan Head dan Debit

Pabrikan biasanya menyediakan kurva pompa air yang menampilkan:

  • sumbu horizontal: debit (Q),

  • sumbu vertikal: head (H).

Pola umumnya:

  • saat head kecil (misal pompa hanya mengalirkan air ke tempat yang tidak terlalu tinggi), debit lebih besar,

  • saat head besar (pompa “mengangkat” air ke ketinggian tinggi atau melawan banyak rugi pipa), debit turun.

Kurva ini penting agar:

  • kamu tidak hanya melihat angka “maksimum head 30 m” atau “maksimum kapasitas 30 L/menit”,

  • tapi tahu, misalnya:

di head 30 m, debit jauh lebih kecil dibanding di head 10 m.

Tanpa baca kurva, orang bisa salah persepsi: menyangka di head 30 meter, debit masih sama seperti kapasitas maksimum di head rendah. Padahal tidak.



Total Dynamic Head (TDH): Head Sebenarnya yang Dilawan Pompa

Total Dynamic Head (TDH) adalah head total yang harus dilawan pompa dalam kondisi nyata.

Secara praktis:


TDH \approx Head\ statis\ (vertikal) + Head\ gesek\ (pipa, fitting, saringan, dll)


1. Hitung Head Statis

Head statis:

  • untuk sistem isap–dorong = (tinggi pompa di atas permukaan air sumber) + (tinggi titik keluaran di atas pompa).

  • untuk sistem dari tandon ke jaringan (booster) = selisih tinggi antara tandon dan titik keluaran + head tekanan yang ingin dicapai di ujung.

2. Estimasi Head Gesek (Friction Losses)

Head gesek dipengaruhi oleh:

  • panjang pipa,

  • diameter pipa,

  • jumlah belokan, valve, saringan, dsb,

  • kecepatan aliran (semakin besar debit, rugi gesek makin besar).

Secara praktis, untuk perhitungan awal (quick estimate), orang sering:

  • mengalikan head statis dengan faktor 1,2–1,5 untuk mengakomodasi rugi gesek,

  • atau memakai tabel/diagram khusus jika ingin lebih presisi.

Contoh kasar:

  • head statis = 10 m,

  • rugi gesek diperkirakan 30% → TDH ≈ 10 × 1,3 = 13 m.



Contoh: Menentukan Pompa Air Head 30 Meter untuk Rumah 2 Lantai

Misal kasus rumah:

  • Tandon berada di lantai 3 (±9 m dari tanah),

  • Pompa berada di lantai dasar,

  • Air sumber dari sumur dangkal (permukaan air setara lantai dasar),

  • Kran terjauh di lantai 2, sekitar 6 m di atas pompa.

Kita hitung:

  1. Head statis sisi dorong

    • dari pompa ke kran tertinggi: ±6 m.

  2. Head hisap

    • jika permukaan air sumber sejajar dengan pompa → head hisap ≈ 0 m (abaikan sementara).

  3. Rugi gesek

    • pipa panjang, banyak belokan → asumsi tambahan ±30–50%.

    • misal 40% dari 6 m ≈ 2,4 m.

TDH perkiraan:


TDH \approx 6 + 2{,}4 \approx 8{,}4 \,m


Jika kamu ingin tekanan di kran setara ±1 bar (±10 m head), maka total head desain bisa dinaikkan ke kisaran 15–20 m.

Artinya, saat memilih pompa:

  • cari pompa air yang di head 15–20 m masih punya debit sesuai kebutuhan rumah,

bukan sekadar melihat “pompa air head 30 meter” di brosur tanpa tahu berapa debitnya di titik itu.



Contoh: Menentukan Kapasitas dan Head Pompa untuk Irigasi 1 Hektar

Misal:

  • luas sawah: 1 ha,

  • ingin menaikkan air dari saluran ke sawah dengan selisih ketinggian total (pompa → petak tertinggi) ≈ 4 m,

  • jalur pipa relatif pendek tapi tidak nol, kita anggap rugi gesek menambah 30%.

1. Head

Head statis ≈ 4 m Rugi gesek 30% → ±1,2 m

TDH ≈ 5,2 m → bundarkan 6 m untuk desain.

2. Debit

Untuk kondisi ilustrasi (seperti di artikel sebelumnya):

  • pengisian awal 10 cm di sawah 1 ha → butuh ±1.000 m³,

  • jika target 8–12 jam,

  • debit rata-rata desain sekitar 80–125 m³/jam (≈1.300–2.000 L/menit).

Artinya, saat memilih pompa:

cari pompa yang di head ±6 m sanggup memberikan debit di atas 1.000 L/menit, bukan hanya melihat “kapasitas maksimum 1.500 L/menit” tanpa melihat di head berapa.

Itu bedanya pemilihan pompa berdasarkan data teknis vs “asal besar”.



Cara Membaca Spesifikasi Pompa Air di Brosur

Biasanya pabrikan menampilkan:

  1. Head maksimum (Hmax)

    • contoh: “Head max 30 m”

    • ini bukan head kerja ideal; di titik ini debit biasanya mendekati nol.

  2. Kapasitas maksimum (Qmax)

    • contoh: “Q max 30 L/menit”

    • ini debit di head sangat rendah (hampir tanpa beban).

  3. Kurva Q–H

    • menunjukkan hubungan debit vs head.

    • inilah yang paling penting untuk pemilihan.

  4. Daya motor (W/HP)

    • menunjukkan kebutuhan listrik / tenaga penggerak.

  5. Informasi tambahan

    • efisiensi, NPSH, suhu cairan, dsb (untuk level lebih advance).

Cara praktis:

  • Tentukan dulu TDH dan debit yang dibutuhkan (dari analisis kebutuhan rumah/irigasi),

  • Cari di kurva pompa air titik yang mendekati kombinasi Q–H itu,

  • Pilih pompa yang bekerja di zona efisien (tidak di ujung kiri/kanan kurva).



Kesalahan Umum Saat Memilih Pompa Berdasarkan Head & Debit

  1. Menganggap head max = head kerja normal dengan debit besar

    • salah: di head max, debit biasanya hampir nol.

  2. Hanya lihat kapasitas max (Qmax)

    • tanpa sadar bahwa Qmax terjadi di head sangat rendah yang belum tentu sama dengan kondisi lapangan.

  3. Mengabaikan rugi gesek pipa

    • hanya menghitung selisih tinggi vertikal → pompa dipilih terlalu kecil,

    • begitu dipasang di lapangan, debit drop.

  4. Oversizing parah

    • memilih pompa jauh lebih besar dari kebutuhan,

    • boros listrik dan kadang menimbulkan masalah (tekanan berlebih, cavitation, noise).



Kapan Perlu Konsultasi Pemilihan Pompa dan Jasa Desain Sistem?

Jika:

  • sistem mulai kompleks (banyak cabang pipa, beberapa lantai, atau jaringan irigasi panjang),

  • kamu harus memastikan pompa bekerja efisien dan tidak cepat rusak,

  • atau kamu ingin mengoptimalkan biaya operasi (BBM/listrik),

maka masuk akal untuk:

  • melakukan konsultasi pemilihan pompa air,

  • atau memakai jasa desain sistem pompa yang bisa:

    • menghitung total dynamic head secara lebih presisi,

    • memilih tipe pompa (centrifugal, jet, submersible, booster),

    • merekomendasikan konfigurasi “beli pompa air sesuai head 30 m” atau head lain yang tepat untuk kasusmu.

Dengan begitu, pembelian pompa air untuk rumah maupun irigasi:

  • bukan lagi tebak-tebakan,

  • tetapi keputusan teknis yang bisa dijelaskan dan dipertanggungjawabkan secara hidrolika dan ekonomis.

Comments


bottom of page