top of page

Cara Menghitung Biaya Penyemprotan per Hektar dengan Hand Sprayer

Updated: Dec 24, 2025


menghitung budget pengeluaran untuk penyemprotan lahan, handsprayer dengan pestisida untuk pertanian

Banyak petani tahu harga pestisida per botol, tapi tidak tahu berapa sebenarnya biaya penyemprotan per hektar, tidak sadar berapa rupiah hilang karena boros larutan, overlap, atau alat yang tidak efisien.

Kalau kamu bisa menghitung cost spraying per hektar, kamu bisa membandingkan strategi aplikasi (manual vs elektrik, satu kali dosis tinggi vs dua kali dosis ringan), menilai apakah produk A yang lebih mahal ternyata lebih hemat karena dosis/liter lebih kecil, dan kamu bisa memutuskan kapan waktunya membeli sprayer lebih efisien atau nozzle hemat larutan.



Komponen Utama Biaya Penyemprotan dengan Hand Sprayer

Secara garis besar, biaya penyemprotan per hektar terdiri dari:

  1. Biaya bahan aktif (pestisida/herbisida/pupuk daun)

    Ini biasanya komponen terbesar. Termasuk: produk utama, adjuvant/surfaktan (kalau dipakai).

  2. Biaya tenaga kerja (operator sprayer)

    • Upah harian/jam operator,

    • Bisa naik kalau alat berat/tidak efisien → waktu kerja lebih lama.

  3. Biaya alat & perawatan (dialokasikan per hektar)

    • Harga hand sprayer (manual/elektrik/2in1),

    • Sparepart: nozzle, selang, seal/o-ring, baterai (untuk elektrik),

    • Dibagi masa pakai dan estimasi hektar yang disemprot selama hidup alat.

  4. Biaya APD & pendukung

    • Masker/respirator, sarung tangan nitrile, kacamata, dll,

    • Bisa dihitung kasar per musim / per hektar.


Jika kamu baru mulai dari awal, kamu bisa fokus dulu ke 3 komponen utama:

  • bahan aktif,

  • tenaga kerja,

  • dan alat (dialokasikan).



Data yang Harus Dikumpulkan Sebelum Menghitung

Sebelum pakai rumus, kamu perlu angka konkret:

  1. Laju semprot (liter/ha)

    • Didapat dari kalibrasi hand sprayer,

    • Misal: 300 L/ha atau 400 L/ha.

  2. Dosis produk per hektar atau per liter larutan

    Contoh:

    • Produk A: 200 ml/ha, atau

    • Produk A: 10 ml per 16 liter larutan.

  3. Harga produk

    • Harga per liter / per kg / per botol,

    • Misal: Rp 100.000 per liter.

  4. Upah tenaga kerja

    • Misal: Rp 100.000 per hari kerja,

    • Berapa hektar yang bisa disemprot per hari oleh satu operator.

  5. Biaya sprayer & sparepart

    Misal:

    • sprayer elektrik 16L harga Rp 1.000.000,

    • dipakai 2 tahun,

    • rata-rata 100 ha selama masa pakai.

    • Maka bisa dihitung “biaya alat per hektar”.

Setelah data ini terkumpul, baru cost spraying bisa dihitung dengan angka yang masuk akal.



Rumus Praktis Menghitung Biaya Penyemprotan per Hektar

Secara sederhana: Total Biaya Penyemprotan per Hektar = Biaya Bahan Kimia per Ha

  • Biaya Tenaga Kerja per Ha

  • Biaya Alat & Perawatan per Ha

Kita breakdown satu per satu.


1. Biaya bahan kimia per hektar

Jika dosis langsung per hektar (dari label):

Biaya bahan per ha = (dosis per ha) × (harga per satuan)

Contoh format:

  • dosis: 200 ml/ha,

  • harga produk: Rp 100.000 per liter (1.000 ml).

Berarti:

  • 200 ml = 200 / 1.000 = 0,2 liter,

  • biaya = 0,2 × Rp 100.000 = Rp 20.000 per ha.

Jika dosis ditulis per tangki (mis. 10 ml per 16 liter), harus dikonversi dulu ke per hektar dengan data laju semprot (L/ha).


2. Biaya tenaga kerja per hektar

Biaya tenaga kerja per ha = (upah per hari / ha disemprot per hari)

Jika:

  • 1 operator dengan 1 sprayer elektrik mampu menyemprot 1 ha per hari,

  • upah = Rp 100.000/hari,

     → biaya tenaga per ha = Rp 100.000.

Kalau hanya bisa 0,5 ha per hari:

  • 1 ha butuh 2 hari kerja → Rp 200.000 per ha.


3. Biaya alat & perawatan per hektar

Biaya alat per ha = (harga alat + total sparepart selama masa pakai) / total ha yang disemprot selama masa hidup alat

Misal:

  • sprayer elektrik 16L harga Rp 1.000.000,

  • selama 2–3 tahun dipakai menyemprot total ±100 ha,

     → biaya alat per ha = Rp 1.000.000 / 100 = Rp 10.000 per ha (belum termasuk sparepart & baterai pengganti).

Kalau tambah sparepart:

  • misal total sparepart 2 tahun = Rp 500.000,

  • total biaya alat = Rp 1.500.000,

  • biaya alat per ha = Rp 1.500.000 / 100 = Rp 15.000 per ha.


Ini bukan angka pasti, tapi cara berpikir yang benar.



Contoh Perhitungan Lengkap (Step by Step)

Biar konkret, kita bikin contoh angka.

Asumsi:

  • Laju semprot dari kalibrasi = 300 L/ha

  • Sprayer: elektrik 16 liter

  • Produk pestisida A:

    • dosis = 200 ml/ha,

    • harga = Rp 120.000 per liter (1.000 ml).

  • Upah operator = Rp 100.000 per hari,

    • 1 operator + sprayer elektrik sanggup 1 ha per hari.

  • Sprayer elektrik:

    • harga = Rp 1.200.000,

    • ditambah sparepart & baterai selama hidup = Rp 600.000,

    • total = Rp 1.800.000,

    • dipakai untuk total 120 ha selama masa pakai.


1. Biaya bahan per ha

Dosis: 200 ml/ha

 Harga per liter: Rp 120.000

 1 liter = 1.000 ml

Konversi:

  • 200 ml = 200 / 1.000 = 0,2 liter

  • Biaya bahan per ha = 0,2 × Rp 120.000

    • 0,2 × 120.000 = 24.000

Biaya bahan per ha = Rp 24.000

Kalau ada adjuvant, tinggal ditambah dengan cara yang sama.


2. Biaya tenaga kerja per ha

Upah operator: Rp 100.000 per hari

 Kapasitas kerja: 1 ha per hari

Biaya tenaga per ha = Rp 100.000 / 1 = Rp 100.000

Kalau kapasitasnya cuma 0,7 ha per hari:

  • 1 ha butuh 1 / 0,7 ≈ 1,43 hari,

  • biaya tenaga ≈ 1,43 × 100.000 = Rp 143.000 (dibulatkan).


3. Biaya alat per ha

Total biaya alat selama hidup:

  • Harga sprayer = Rp 1.200.000

  • Sparepart & baterai = Rp 600.000

  • Total = Rp 1.800.000

Total hektar selama masa pakai = 120 ha

Biaya alat per ha = Rp 1.800.000 / 120

  • 1.800.000 / 120 = (18.000 / 1,2)

  • 18.000 / 1,2 = 15.000

Biaya alat per ha = Rp 15.000


4. Total biaya penyemprotan per hektar

Total = bahan + tenaga + alat

 = Rp 24.000 + Rp 100.000 + Rp 15.000

 = Rp 139.000 per hektar per aplikasi


Dengan angka ini, kamu bisa membandingkan program pestisida A vs B, melihat dampak kalau tenaga per ha bisa dipercepat (misal pakai sprayer lebih efisien), atau simulasi jika laju semprot turun (lebih hemat larutan) tanpa mengorbankan efektivitas.



Sumber Pemborosan Terbesar dan Cara Menguranginya

Beberapa sumber boros paling sering:

  1. Overdosis dan overlap

    • Tidak ada kalibrasi → beberapa petak kena dua kali,

    • Jalan zigzag sembarangan,

    • Nozzle terlalu lebar tanpa disiplin jalur.

  2. Laju semprot terlalu tinggi (L/ha terlalu besar)

    • Tekanan berlebihan,

    • Nozzle tidak sesuai,

    • Operator terlalu lambat jalan.

  3. Larutan sisa di tangki dibuang begitu saja

    • Mengisi tangki tanpa hitung kebutuhan per blok,

    • Selalu “lebihkan” banyak → sisa dibuang di akhir.

  4. Perawatan buruk → alat sering rusak

    • nozzle & filter tidak pernah dibersihkan,

    • seal bocor bikin pekerjaan lebih lama,

    • sprayer mati di tengah jalan → waktu habis.


Cara mengurangi:

  • kalibrasi hand sprayer → tahu L/ha dan tangki per blok,

  • gunakan pola jalur semprot yang teratur (bedengan/baris),

  • perawatan rutin sprayer dan nozzle,

  • gunakan nozzle hemat drift & hemat larutan sesuai fungsi.



Peran Sprayer, Nozzle, dan Kalibrasi dalam Efisiensi Biaya

Sprayer efisien (termasuk elektrik/2in1):

  • mengurangi kelelahan sehingga operator bisa menyelesaikan lebih banyak ha per hari, dan biaya tenaga kerja per ha turun.


Nozzle hemat larutan & tepat aplikasi:

  • droplet dan pola semprot sesuai fungsi (pestisida vs herbisida),

  • mengurangi drift dan overlap,

  • setiap liter larutan lebih “tepat sasaran”.


Kalibrasi sprayer:

  • tanpa kalibrasi, semua perhitungan L/ha dan biaya hanya perkiraan.

  • dengan kalibrasi:

    • kamu tahu butuh berapa liter per ha,

    • berapa tangki per blok,

    • dan bisa menghitung cost spraying dengan akurat.


Sprayer yang tampaknya lebih mahal sebenarnya lebih murah per hektar jika awet, tekanan stabil, dan membantu operator menyelesaikan area lebih luas per hari dengan laju semprot terukur.

Comments


bottom of page